Monday, June 14, 2021

Penaklukkan Konstantinopel

MEHMED II lahir pada 30 Maret 1432. Secara luas dia dikenal sebagai Muhammad al Fatih dan merupakan penguasa ketujuh pada Kekhalifahan Turki Utsmaniyah.

Popularitasnya dibangun dengan berhasil menaklukkan Konstantinopel, ibu kota kekaisaran Romawi Timur alias Bizantium. Al Fatih yang berarti 'Sang Penakluk' adalah gelar yang disandang Mehmed II seorang putra Sultan Murad II Han, dari ibu Hüma Hatun, seorang budak-selir.

Tidak banyak yang mengetahui latar belakang ibu kandung Mehmed II, tetapi sebagian sumber menyebut, Hüma Hatun, merupakan anak dari seorang mualaf. Dalam catatan resmi, dijelaskan dirinya sebagai "Hātun binti Abdullah" (perempuan putri Abdullah). Secara tradisi Utsmani, Abdullah sendiri adalah sebutan untuk nama ayah dari seorang mualaf.

Melansir wikipedia, Hüma Hatun juga disebut seorang Yahudi Italia bernama Stella. Pendapat lain menyatakan bahwa dia seorang Serbia. Sejarawan Turki İlber Ortaylı berpendapat bahwa dia keturunan bangsa Slavia. Dia kemudian masuk Islam dan diberi nama baru, Hüma, yang merupakan burung surgawi dalam legenda Persia. Hüma meninggal pada September 1449 dan dimakamkan di Komplek Muradiye.

Sementara ibu tiri Mehmed II, Mara Hatun atau Mara Branković, putri Đurađ Branković, Despot Serbia. Ibunya adalah Irene Kantakouzene, cucu Matius Kantakouzenos, Kaisar Romawi Timur yang berkuasa pada 1353–1357. Mara juga dikenal dengan Sultana Marija, Despina Hatun, atau Amerissa. Setelah Murad mangkat, Mara sempat kembali kepada orangtuanya, menolak lamaran dari Kaisar Konstantinus XI.

Mara Hatun atau Mara Branković menjadi tokoh kunci dalam pemerintahan Mehmed II. Dia sering menjadi penasehat, dan disebut-sebut sebagai sosok yang menginspirasi Mehmed II dalam penaklukkan Konstantinopel.

Mehmed dikenal sebagai pemimpin yang cakap dan mempunyai kepakaran dalam bidang kemiliteran, ilmu pengetahuan, matematika, dan menguasai enam bahasa saat berumur 21 tahun. Dia dikenal sebagai pahlawan di Turki maupun dunia Islam secara luas.

Dalam sejarah Islam, Mehmed juga dikenal sebagai salah seorang pemimpin yang hebat sebagaimana Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di 'Ain Al-Jalut melawan tentara Mongol).

Pada masa awal pemerintahannya periode pertama, Mehmed II telah memusatkan perhatian untuk menaklukkan Konstantinopel. Cita-citanya tersebut awalnya mendapat pertentangan dari pejabat pemerintahan, khususnya dari Wazir Çandarlı Halil Pasya, lantaran pada saat yang sama, Turki Utsmaniyah sedang menghadapi ancaman perang dengan wilayah-wilayah yang sudah ditaklukkan.

Çandarlı Halil Pasya merupakan guru Mehmed II yang kerap bertentangan dengan sang Sultan. Dia juga seorang yang berpengaruh dalam pemerintahan Turki Ustmany dan disebut sebagai orang terkuat kedua setelah Sultan. Kelak, setelah Mehmed II berhasil menaklukkan Konstantinopel, Sultan menjatuhkan hukuman mati kepada Çandarlı Halil Pasya.

Beberapa sumber menyebut, Çandarlı Halil Pasya bertanggung jawab atas beberapa upaya menghasut pasukan Turki Ustmany untuk meninggalkan Mehmed II yang nyaris gagal menaklukkan Konstantinopel. Çandarlı Halil Pasya juga disebut-sebut sebagai sosok yang terus mengupayakan gencatan senjata di tengah klimaks pengepungan Konstantinopel. Dia pula yang meminta Sultan Murad II untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan Mehmed II di usia muda, karena keberatan dengan rencana penyerangan ke Konstantinopel. Çandarlı Halil Pasya dikenal sebagai wazir Turki Utsmany yang memiliki hubungan dekat dengan pejabat utama (grand duke) berkebangsaan Yunani di Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur). Keduanya merupakan tokoh yang bersikeras menghindari perang lantaran tidak mau hartanya habis dipakai untuk keperluan militer.

Keinginannya menaklukkan Konstantinopel di usia remaja itu membuat Sultan Murad II kembali mengambil alih kekuasaan.

Mehmed II begitu terkesan dengan sejarah penaklukkan Alexander dari barat yang mampu menguasai dunia timur. Selain itu, keinginannya menaklukkan Konstantinopel merupakan cita-cita yang selalu gagal dilakukan oleh para pendahulunya di Turki Utsmaniyah.

Inspirasi lain yang membuat Mehmed II digelar sebagai Al Fatih juga bersandar pada hadist Rasulullah, yang menyebutkan pada suatu masa Islam akan menguasai Konstantinopel. Hanya sultan terbaik dari pasukan terbaik pula yang mampu merebut pusat pemerintahan Romawi Timur tersebut. Hadist ini disebut-sebut menjadi motivasi bagi Mehmed II untuk membuktikan bahwa dirinya adalah Sultan terbaik dari Kekhalifahan Turki Utsmany dan dalam sejarah Islam.

Mehmed II yang kemudian kembali mendapat kekuasaan pada 3 Februari 1451 langsung menyusun strategi untuk mengepung Konstantinopel. Pada tahun 1453, Mehmed memulai pengepungan Konstantinopel dengan pasukan berjumlah antara 80.000 sampai 200.000 orang.

Serangan yang dilakukan turut melibatkan pasukan khusus Yanisari dan prajurit elite kerajaan-kerajaan taklukan. Dalam serangan itu, Mehmed II turut memboyong meriam terbesar dalam sejarah pada masa itu. Namanya Basilica. Meriam ini merupakan buatan Orban, seorang insinyur dari Transilvania.

Selain Basilica, Mehmed II juga memboyong puluhan meriam berukuran kecil lainnya dalam pengepungan tersebut. Pengerahan besar-besaran pasukan artileri tersebut diperlukan karena Konstantinopel memiliki tembok pertahanan yang kuat. Di awal-awal pengepungan, pasukan Mehmed II sempat kerepotan menembus tembok kota yang dikenal tangguh tersebut. Dalam serangan itu, Orban dan putranya bahkan tewas lantaran meriam Basilica yang menjadi andalan untuk menembus tembok kota tersebut meledak akibat dipakai terus menerus untuk memuntahkan peluru.

Dalam serangan tersebut, Mehmed II turut melibatkan armada laut. Ratusan kapal Turki Utsmany dikerahkan untuk memblokade wilayah laut Konstantinopel, guna mencegah bantuan dari kerajaan-kerajaan Eropa.

Di sisi lain, Romawi Timur saat itu berada di bawah pemerintahan Konstantinus XI Palailogos Dragaš. Dia merupakan kaisar terakhir Bizantium yang mempertahankan Konstantinopel dari serangan Mehmed II.

Dalam perang itu, beberapa tentara Barat datang dan memperkuat pertahanan Konstantinopel. Namun, bantuan itu tidak sepadan dengan kekuatan Turki Utsmany. Sementara beberapa penguasa Eropa lainnya sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Meskipun memiliki jumlah armada yang besar di perairan Bosporus, tetapi pasukan Mehmed II tidak dapat masuk ke Pelabuhan Tanduk Emas. Pelabuhan tersebut dilindungi oleh rantai penghadang, yang mampu merusak kapal-kapal musuh jika berupaya merangsek ke pelabuhan kota.

Mehmed II yang jenius tidak kehilangan akal, meski pengepungan yang dilakukan telah menghabiskan waktu lebih dari satu bulan. Mehmed II tanpa sepengetahuan Çandarlı Halil Pasya justru memerintahkan pasukannya untuk  mengangkat 80 kapal melalui darat di sekitar koloni Genova di Galata, agar dapat kembali berlayar di pantai utara Tanduk Emas. Perintah tersebut merupakan strategi militer yang tidak pernah dilakukan pada masa itu. Perintah tersebut dilakukan setelah mengingat pesan dari ibu tirinya, Mara Branković, yang mengingatkan Mehmed II agar mempelajari sejarah kegagalan penaklukkan Konstantinopel.

Delapan puluh kapal diangkat dari Bosporus setelah membuka rute, kurang lebih satu mil, dengan kayu. Dengan keadaan demikian, pihak Romawi menempatkan pasukan mereka di atas dinding yang lebih panjang. Sekitar sebulan kemudian, tepatnya pada 29 Mei 1453, pasukan Turki Utsmany berhasil menaklukkan Konstantinopel setelah 57 hari pengepungan. Di hari yang sama, Konstantinus XI Palailogos Dragaš selaku kaisar Romawi Timur juga mati dalam peperangan tersebut.

Setelah penaklukan ini, Mehmed II memindahkan ibu kota Utsmani dari Edirne ke Konstantinopel. Dua keponakan dan pewaris Kaisar Konstantinus XI Palaiologos lantas menjadi pelayan dekat Mehmed dan kemudian masuk Islam. Keduanya kemudian diberi nama baru, Hass Murad dan Mesih.

Hass Murad diangkat sebagai Gubernur Balkan, sementara Mesih menjadi Gubernur Gallipoli dan kemudian wazir agung pada masa kekuasaan putra Mehmed, Bayezid II.[] Dari berbagai sumber


No comments:

Post a Comment