Thursday, June 12, 2014

Mencari Jejak Kitab Tertua di Aceh

KITAB Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy disebut-sebut sebagai kitab tertua yang pernah diterbitkan di Aceh. Di dalam kitab tersebut ada informasi yang menyebutkan bahwa Kerajaan Islam tertua di nusantara berada di Perlak. Namun banyak sejarawan dan kolektor manuskrip Aceh yang meragukan fakta adanya kitab tersebut. Kenapa?

"Kitab ini berasal dari masa Kerajaan Perlak sebelum Kerajaan Pasee berkembang. Dia terbilang sebagai salah satu kitab tertua di Aceh yang isinya membahas tentang struktur dan tata negara di Peureulak. Tapi bukti keberadaannya hingga sekarang belum ditemukan," ujar Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi A. Hamid saat dijumpai oleh ATJEHPOSTcom, Selasa malam, 21 Mei 2014.


Dia mengatakan, dengan tidak diketahuinya keberadaan kitab Idharul Haq tersebut makanya kedudukan Perlak sebagai kerajaan Islam tertua di nusantara menjadi lemah. Saat ini, kata dia, satu-satunya kitab yang bisa dikategorikan tertua di Aceh yaitu Lutfah Thullab karya Syekh Zakaria Ansyari. "Kitab ini berasal dari abad ke 16. Berdasarkan watermark kertasnya bisa diketahui produk Eropa, tapi bukan dari Venesia seperti kitab-kitab tua yang ada selama ini," ujarnya.

Dia mengatakan, kitab tersebut berisi tentang hukum Islam yang berlaku di Aceh pada abad tersebut. "Sementara pengarangnya bekerja di Kerajaan Aceh Darussalam di bawah mufti kerajaan. Kitab ini merupakan salah satu koleksi saya yang masih utuh meski tulisan di dalamnya mulai luntur karena faktor usia," ujarnya.

Proses pencarian Idharul Haq sebagai rujukan kitab tertua telah dilakukan oleh beberapa sejarawan di Aceh. Kitab ini pernah diperlihatkan saat Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara di Rantau, Kualasimpang pada tahun 1980. Namun, merujuk tulisan  Nab Bahany As, anggota masyarakat sejarawan Indonesia (MSI) Aceh, dan ketua (LSKPM) Banda Aceh, kitab Idharul Haq yang diperlihatkan dalam seminar itu katanya bukan dalam bentuk asli, tidak utuh lagi melainkan hanya lembaran lepas. Kitab itu sendiri masih misteri, karena sampai sekarang belum ditemukan dalam bentuk aslinya.

"Sehingga ada yang mengatakan kita Idharul Haq ini hanya satu rekayasa sejarah untuk menguatkan pendapat bahwa berdasarkan kitab itu benar kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara adalah kerajaan Islam Perlak," tulis Nab Bahany dalam artikel berjudul: Menguak Sejarah Kerajaan Islam Peurlak. Dia sendiri telah mencoba melacak keberadaan kitab ini ke rumah Tgk. Abdul Samad, tokoh adat di tanah Gayo di Aceh Tengah, pada tahun 1989.

Sosok tersebut merupakan salah satu narasumber yang hadir dalam seminar sejarah dan masuknya Islam ke Nusantara. Dia pula yang membawa dan memperlihatkan kitab Idharul Haq di forum tersebut. Namun sayangnya, saat Nab Bahany bersama tim Monisa melacak kembali Tgk Abdul Samad pada April 2009, dirinya tidak menemukan kitab tersebut.

Selain itu, Tgk Abdul Samad yang mengaku sedang menerjemahkan kitab ini di era 80-an juga telah meninggal dunia. Sehingga keberadaan kitab tersebut hingga sekarang tidak diketahui dimana rimbanya.

Selain dua kitab tersebut, sebenarnya Aceh memiliki karya-karya populer yang sempat menjadi bahan referensi di masa kejayaannya. Kitab-kitab tersebut dikarang oleh ulama-ulama terkenal di Aceh seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar Ranirry, Syamsuddin As Sumatrani dan Syekh Abdurrauf As Singkili,  Fakih Jalaludin, Teungku Khatib Langgien, Muhammad Zein, Abbas Kuta Karang, Teungku Chik di Leupe (Daud Rumi), Jalaluddin Tursany, Jamaluddin ibn Kamaluddin, Zainuddin, Teungku Chik  Pante Kulu, dan banyak tokoh lainnya yang memiliki karakteristik dan kekhasan serta identik dengan khazanah Islam lokal dan universal.

Di antara kitab terkenal adalah Bustan as-Salatin fi Zikr al-Awwalan wal Akhirin (Bustan as-Salatin), yaitu salah satu kitab fenomenal yang disusun pada abad ke-16. Kitab ini disusun tepatnya pada masa Iskandar Muda (1607-1636) sampai pada masa Sultan Iskandar Tsani (1636-1641). Kitab ini memberikan gambaran tentang Aceh dan kerajaannya pada periode ke-16 dan ke-17 M. Kitab yang disusun oleh Syeikh Nuruddin Muhammad ibnu ‘Ali ibnu Hasanji ibn Muhammad Hamid ar-Raniri tersebut, bercerita kisah raja-raja Melayu secara universal, khususnya kerajaan Aceh Darussalam, termasuk merekam jejak perjalanan istana kerajaan Aceh dan struktural kenegaraan.

Selain Bustanussalatin, Nuruddin juga menuliskan beberapa kitab lainnya. Ada sekitar 30 lebih judul kitab karya Nuruddin ar-Raniry dalam pelbagai disiplin bidang ilmu dan kajian mayoritasnya beraksara Jawi berbahasa Melayu. Di antaranya Kitab As-Sirath al-Mustaqim, Durrat al-Faraid bi Syarh al-‘Aqaid, Hidayat al-habib fi al Targhib wa’l-Tarhib, Bustanus as-Salatin fi Zikr al-Awwalin Wal Akhirin, Latha’if al-Asrar, Asrarul Insan fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman, Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, Akbar al-Akhirah fi Ahwal al-Qiyamah, Hill al-Zill, Ma’ul Hayat li Ahlil Mamat, Jawahirl ‘Ulum fi Kasyfil Ma’lum, Syifa’ul Qulub, Hujjat as-Shiddiq Lidaf’il Zindiq, dan Fathul Mubin ‘alal Mulhidin.

Ulama Aceh yang terkenal dalam catatan sejarah lainnya seperti Syekh Abdurrauf As Singkili juga pernah menerbitkan kitab sebagai rujukan ilmu pengetahuan di masanya. Kitab-kitab yang pernah disusunnya tersebut kemudian dipublikasikan oleh murid-muridnya. Adapun kitab karya Syekh Abdurrauf As Singkili seperti Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab. Kitab ini berisi tentang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin.

Kemudian, Tarjuman al-Mustafid. Kitab ini merupakan naskah pertama tafsir Alquran yang lengkap berbahasa Melayu. Dia juga menerjemahkan hadits Arba'in karya Imam Al-Nawawi. Kitab ini ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin. Ulama besar masa Kerajaan Aceh Darussalam ini juga menulis kitab Mawa'iz al-Badî' yang berisi sejumlah nasihat penting dalam pembinaan akhlak.

Sosok ini juga menuliskan kitab Tanbih al-Masyi, yang merupakan naskah tasawuf berisi pengajaran tentang martabat tujuh. Dia juga menulis Kifayat al-Muhtajin ilâ Masyrah al-Muwahhidin al-Qâilin bi Wahdatil Wujud yang memuat penjelasan tentang konsep wahadatul wujud serta kitab Daqâiq al-Hurf yang berisi tentang pengajaran mengenai taswuf dan teologi.

Selain itu, salah satu ulama Aceh Hamzah Fansuri juga pernah menerbitkan karya-karyanya yang lebih menjurus ke puisi dan prosa. Di antaranya seperti Syair Burung Unggas, Syair Dagang, Syair Perahu, Syair Si Burung pipit, Syair Si Burung Pungguk, Syair Sidang Fakir, Asrar al-Arifin, Sharab al-Asyikin, dan Zinat al-Muwahidin. Syamsuddin As Sumatrani juga pernah menuliskan kitab-kitab yang pernah beredar di Aceh pada abad ke 17.

Beberapa kitabnya yang terkenal seperti Syarah Ruba'i Hamzah Fansuri (tafsir atas syair-syair Hamzah Fansuri); Mir'at al-Haqiqat (cermin hakikat); Jawahir al Haqaiq (permata kebenaran); Mir'at al Mukminun (cermin orang Mukmin); Mir'at al Iman (cermin Iman); Syarah Mi'ratul Qulb (uraian untuk cermin bagi hati); Kitab al Martabat; dan Kitab al Harakat (kitab tentang gerakan).

Sayangnya, tidak semua kitab-kitab tersebut bisa ditemukan dengan leluasa di museum-museum oleh generasi Aceh. Beberapa kitab tua ini dikabarkan telah hilang di periode perjalanan sejarah Aceh disebabkan satu dan lain hal. Hal ini pula yang menyebabkan keraguan bahwa kitab-kitab tersebut pernah ada dan dilahirkan di Aceh, selain Bustanussalatin yang menjadi panduan bagi sejarawan dalam mencari jejak sejarah Kerajaan Aceh Darussalam.

Lantas, bisakah Lutfah Thullab karya Syekh Zakaria Ansyari dan Bustanussalatin ditabalkan sebagai kitab tertua yang pernah diproduksi di Aceh karena masih bisa dilihat hingga sekarang? Atau ada kitab tertua lainnya yang masih 'tersembunyi' di salah satu tempat dan masih ada hingga sekarang? "Jika Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy masih ada, tunjukkan. Agar semua tahu kebenaran sejarah," ujar Tarmizi A. Hamid.[] Referensi dari berbagai sumber, Penulis: Boy Nashruddin Agus

No comments:

Post a Comment