Friday, December 6, 2013

Perang Belanda di Aceh

Film Cut Nyak Dhien yang diperankan oleh Christine Hakim
PRAJURIT Kerajaan Aceh Darussalam menenggelamkan setiap kapal berbendera Belanda saat melewati daerah kekuasaannya. Hal ini dilakukan usai negeri Kincir Angin tersebut mengkhianati perjanjian Siak. Peperangan ini berlangsung hingga tiga tahap.

Pada 13 Oktober 1880, setelah berhasil merebut Istana (Dalam-Kraton), Belanda menyatakan perang frontal yang terjadi di Aceh berakhir. Padahal masih banyak pejuang Aceh yang bergerilya saat itu.

Konflik antar negara ini mulanya dipicu oleh sikap Belanda saat menduduki Siak akibat perjanjian yang ditandatangani pada 1858. Isi perjanjian ini yaitu Sultan Ismail menyerahkan Deli, Langkat, Asahan dan Serdang kepada Belanda. Padahal daerah-daerah ini sudah berada di bawah kekuasaan Aceh sejak kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.


Pengkhianatan yang dilakukan oleh Belanda ini turut mengakhiri perjanjian London tahun 1824. Isi perjanjian London adalah Belanda dan Britania Raya membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Singapura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.

Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal Belanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan oleh pasukan Aceh. Perbuatan Aceh ini didukung Britania.

Dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps membuat perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalu lintas perdagangan. Hal ini turut memicu Pemerintah Hindia Belanda untuk menaklukkan Aceh.

Ditandatanganinya Perjanjian London 1871 antara Inggris dan Belanda yang isinya: Britania memberikan keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Selanjutnya, Belanda juga diamanahkan untuk menjaga keamanan lalulintas di Selat Malaka. Di sisi lain, Belanda mengizinkan Britania bebas berdagang di Siak dan menyerahkan daerahnya di Guyana Barat kepada Britania.

Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika Serikat, Kerajaan Italia, Kesultanan Usmaniyah di Singapura dan mengirimkan utusan ke Turki Usmani pada tahun 1871. Jalinan diplomatis dengan beberapa negara ini menjadi alasan lainnya kenapa Belanda menyerang Aceh.

Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan dua kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tentang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu. Tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan.

Dipicu oleh beberapa sebab tersebut, akhirnya Belanda menyatakan perang terhadap Aceh setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik pada 26 Maret 1873. Sebuah ekspedisi dengan 3.000 serdadu yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler dikirimkan pada tahun 1874. Ribuan pasukan Netherland ini berhasil dikalahkan oleh tentara Aceh di bawah pimpinan Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah yang telah memodernisasikan senjatanya. Köhler sendiri berhasil dibunuh oleh pasukan sniper Aceh pada 10 April 1873.

Belanda kemudian meluncurkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten yang berhasil merebut istana sultan. Peperangan kali ini membuat Sultan Machmud Syah wafat akibat penyakit kolera pada 26 Januari 1874. Dia digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai sultan di masjid Indrapuri.

Pada 13 Oktober 1880, pemerintah kolonial menyatakan bahwa perang telah berakhir. Bagaimanapun perang dilanjutkan secara gerilya dan perang fisabilillah dikobarkan. Sistem perang gerilya ini dilangsungkan hingga 1904.

Pada masa perang dengan Belanda, Kesultanan Aceh sempat meminta bantuan kepada perwakilan Amerika Serikat di Singapura yang disinggahi Panglima Tibang Muhammad dalam perjalanannya menuju Pelantikan Kaisar Napoleon III dari Perancis. Aceh juga mengirim Habib Abdurrahman azh-Zhahir untuk meminta bantuan kepada Khalifah Usmaniyah. Namun Turki Utsmani kala itu sudah mengalami masa kemunduran sedangkan Amerika Serikat menolak campur tangan dalam urusan Aceh dan Belanda.

Perang kembali berkobar pada tahun 1883. Pasukan Belanda berusaha membebaskan para pelaut Britania Raya yang sedang ditawan di salah satu wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh, dan menyerang kawasan tersebut. Sultan Aceh menyerahkan para tawanan dan menerima bayaran yang cukup besar sebagai gantinya.

Sementara itu Menteri Perang Belanda, August Willem Philip Weitzel, kembali menyatakan perang terbuka melawan Aceh. Belanda kali ini meminta bantuan para pemimpin setempat di antaranya Teuku Umar.

Ilustrasi pasukan Teuku Umar. @Film Cut Nyak Dhien
Teuku Umar diberikan gelar panglima perang besar dan pada 1 Januari 1894 bahkan menerima dana bantuan Belanda untuk membangun pasukannya. Ternyata dua tahun kemudian Teuku Umar malah menyerang Belanda dengan pasukan baru tersebut. Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan Aceh terus melancarkan perang gerilya hingga titik darah penghabisan.

Belanda berhasil menewaskan Teuku Umar dalam serangan mendadak yang dipimpin oleh Van Der Dussen pada 1899. Hindia Belanda berhasil menyergap pasukan Teuku Umar di Meulaboh berkat informasi yang diberikan oleh salah satu Leubee pengkhianat. Perjuangan pasukan Kerajaan Aceh tidak berakhir. Pucuk pimpinan dipegang oleh Cut Nyak Dhien, isteri Teuku Umar yang dibantu oleh Pang Laot sebagai kaki tangannya. Dhien tampil menjadi komandan perang gerilya yang berhasil membunuh ratusan serdadu Belanda di Tanah Rencong.

Sebelumnya sekitar tahun 1892 dan 1893, pihak Belanda telah menyerah untuk merebut Aceh menjadi daerah koloninya. Namun berkat kepiawaian Dr Christian Snouck Hougronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden, berhasil mempelajari karakteristik perjuangan pasukan Aceh. Bahkan Snouck mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh.

Pria yang dijuluki Teungku Puteh ini kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil.

Dr Snouck menyamar selama dua tahun di pedalaman Aceh untuk meneliti kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh. Hasil kerjanya itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh (De Atjehers). Dalam buku itu disebutkan rahasia bagaimana untuk menaklukkan Aceh.

Beberapa isi nasihat Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda yang bertugas di Aceh yaitu mengesampingkan golongan Keumala (yaitu Sultan yang berkedudukan di Keumala) beserta pengikutnya. Selanjutnya senantiasa menyerang dan menghantam kaum ulama, tidak berunding dengan para pimpinan gerilya.

Snouck juga menganjurkan untuk mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya. Di sisi lain, Hindia Belanda diharapkan mampu menunjukkan niat baik kepada rakyat Aceh dengan mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh.

Joannes Benedictus van Heutsz yang selanjutnya dinyatakan sebagai Gubernur Militer Aceh pada 1898 kemudian mengangkat Dr Snouck sebagai penasihatnya. Bersama letnannya Hendrikus Colijn (kelak menjadi Perdana Menteri Belanda), dia berhasil merebut sebagian besar kawasan Aceh.

Sultan Muhammad Daud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada 1903 setelah dua istri, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904.

Setelah menyerah Sultan Aceh, Belanda memporakporandakan istana Kesultanan Aceh. Penjajah Belanda mengganti istana Darud Dunia dengan bangunan baru yang sekarang dikenal dengan nama Pendopo Gubernur. Pada tahun tersebut hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.

Taktik perang gerilya Aceh kemudian ditiru oleh Van Heutz. Belanda membentuk pasukan marechaussee yang dipimpin oleh Hans Christoffel dengan pasukan Colone Macannya yang mampu menguasai pegunungan-pegunungan, hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari dan mengejar gerilyawan.

Taktik berikutnya yang dilakukan Belanda adalah dengan cara menculik anggota keluarga gerilyawan Aceh. Misalnya Christoffel menculik permaisuri sultan dan Tengku Putroe tahun 1902. Van der Maaten menawan putera Sultan Tuanku Ibrahim.

Akibatnya, Sultan Aceh menyerah di Sigli dan berdamai pada 5 Januari 1902. Van der Maaten diam-diam menyergap Tangse namun tidak berhasil menangkap Panglima Polem. Sebagai gantinya, Belanda menangkap putera Panglima Polem, Cut Po Radeu saudara perempuannya dan beberapa keluarga terdekatnya.

Panglima Polem kemudian meletakkan senjata dan menyerah ke Lhokseumawe pada 1903. Akibat Panglima Polem menyerah banyak penghulu-penghulu rakyat yang mengikuti jejaknya.

Taktik selanjutnya pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang dilakukan di bawah pimpinan Van Daalen yang menggantikan Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuto Reh dimana 2.922 orang dibunuhnya, yang terdiri dari 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan pada 14 Juni 1904.

Taktik terakhir menangkap Cut Nya’ Dien istri Teuku Umar yang masih melakukan perlawanan secara gerilya, dimana akhirnya Cut Nya’ Dien dapat ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat setelah Belanda bekerjasam dengan Pang Laot, kaki tangan Cut Nyak Dhien yang sebelumnya selalu berperang di sisinya.[]Dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment