GAYO dikenal sebagai suku bangsa yang cinta damai, tetapi setia, dan juga loyal. Pada suatu masa, wilayah Gayo yang saat ini terbagi dalam beberapa kabupaten seperti Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, pernah menjadi lokasi paling strategis bagi para pejuang untuk berlindung dari kejaran musuh.
Bentang alamnya yang terdiri dari pegunungan, lembah dan memiliki hutan padat yang jauh dari pantai membuat sebagian pejuang memilih Gayo sebagai lokasi persembunyian untuk melancarkan perang gerilya. Setidaknya demikian catatan yang menunjukkan pentingnya dataran tinggi Gayo dalam perjalanan sejarah Aceh masa perang Belanda.
Dalam perangnya di Aceh, Belanda yang merasa tidak cukup menguasai daerah-daerah pesisir merasa perlu menunjukkan kekuatan militernya hingga ke kawasan pedalaman seperti Gayo. Lagipula, kawasan pegunungan tersebut dicurigai menjadi basis baru pasukan Aceh. Selain itu, Belanda menduga masyarakat di sana juga masih loyal dengan Sultan Muhammad Daud Syah ibnu Sultan Zainal Abidin ibnu Sultan Alaidin Mansyur Syah.