GAYO dikenal sebagai suku bangsa yang cinta damai, tetapi setia, dan juga loyal. Pada suatu masa, wilayah Gayo yang saat ini terbagi dalam beberapa kabupaten seperti Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, pernah menjadi lokasi paling strategis bagi para pejuang untuk berlindung dari kejaran musuh.
Bentang alamnya yang terdiri dari pegunungan, lembah dan memiliki hutan padat yang jauh dari pantai membuat sebagian pejuang memilih Gayo sebagai lokasi persembunyian untuk melancarkan perang gerilya. Setidaknya demikian catatan yang menunjukkan pentingnya dataran tinggi Gayo dalam perjalanan sejarah Aceh masa perang Belanda.
Dalam perangnya di Aceh, Belanda yang merasa tidak cukup menguasai daerah-daerah pesisir merasa perlu menunjukkan kekuatan militernya hingga ke kawasan pedalaman seperti Gayo. Lagipula, kawasan pegunungan tersebut dicurigai menjadi basis baru pasukan Aceh. Selain itu, Belanda menduga masyarakat di sana juga masih loyal dengan Sultan Muhammad Daud Syah ibnu Sultan Zainal Abidin ibnu Sultan Alaidin Mansyur Syah.
Berdasarkan kecurigaan itulah yang membuat Belanda kemudian menyusun ekspedisi ke Gayo pada 8 Februari 1904. Hindia Belanda menugaskan Korps Marechaussee te Voet alias Marsose pimpinan Gotfried Coenraad Ernst (GCE) van Daalen untuk melaksanakan ekspedisi itu. Tujuan ekspedisi tersebut tak hanya mencakup wilayah Gayo semata, tetapi juga Tanah Alas dan juga Batak.
Ekspedisi marsose pimpinan van Daalen ini diwarnai dengan pembantaian terhadap penduduk setempat. Tentang itu bahkan dicatat dalam surat kabar Deli Courant yang menyebutkan adanya ratusan warga yang dibantai oleh pasukan marsose, di salah satu desa di Gayo. Korban tewas terdiri dari 313 pria, sebanyak 189 wanita, dan 59 anak-anak.
Ajudan van Daalen, J.C.J. Kempees dalam laporan berjudul De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden bahkan menyebut ekspedisi militer Belanda di tanah Gayo, Alas, dan Batak itu setidaknya menelan korban nyawa hingga 4.000 orang. Dalam laporannya, Kempees menyertakan foto-foto bukti pembantaian massal rakyat Gayo maupun Alas. Seusai penyerbuan, Van Daalen dengan jumawa bahkan memerintahkan Kempees untuk mengambil foto tumpukan mayat penduduk.
Aksi Belanda tersebut tentunya mendapat sambutan perang dari penduduk setempat. Seperti halnya ketika marsose menyerbu Gemuyang pada 18 Maret 1904, yang membuat 169 orang pria, 92 wanita dan 48 anak-anak Gayo tewas. Selain itu, ada juga korban yang menderita luka-luka.
Sementara itu, Belanda dalam serbuan ke Gemuyang juga kehilangan empat prajuritnya karena tewas. Sebanyak 13 personel Belanda juga luka-luka karena perlawanan yang dilakukan warga Gemuyang.
H. M Said dalam buku Aceh Sepanjang Abad Jilid II yang merujuk catatan Belanda bahkan menyebut Gemuyang sebagai salah satu basis pertahanan pasukan Aceh yang dipertahankan secara mati-matian.
"Hal inilah yang membuat Belanda menyebut daerah tersebut sebagai fanatiek verdegdigde Gemuyong," tulis H. M Said.
Gemuyang bukan satu-satunya pemukiman yang diserang oleh Belanda pada tahun tersebut. Aksi yang mengarah pembantaian etnis juga dilakukan van Daalen bersama pasukannya di Gampong Rerobo Toa, Paser dan Papereq. Belanda juga meluluhlantakkan Kampung Duren-Rojo Silo, Kuto Lintang dan Kuta Blang pada 22 dan 23 Maret 1904.
Di dua perkampungan terakhir, sebanyak 166 jiwa dibunuh yang diantaranya termasuk 15 perempuan dan anak-anak. Dalam serangan ke Kuto Lintang dan Kuta Blang, Belanda mencatat dua personilnya tewas dan 24 orang luka-luka.
Unjuk kekuatan Belanda kemudian diteruskan ke Kampung Badak pada 4 April 1904. Dalam peristiwa tersebut sebanyak 93 orang laki-laki bersama 29 perempuan dan anak-anak penduduk desa dibunuh. Belanda juga menyerbut Rikit Gaib dan Tampeng yang mengakibatkan 143 orang pria bersama 41 orang wanita dan anak-anak tewas.
Seperti halnya di beberapa daerah yang dilalui Belanda, penyerangan di Rikit Gaib mendapat perlawanan dari penduduk setempat sehingga mengakibatkan 12 serdadu Belanda berkalang tanah dan 37 lainnya luka-luka.
Belanda dalam ekspedisi tersebut juga menyerang Penosan pada 11 Mei 1904. Dalam serangan itu sebanyak 191 orang pria dan 95 perempuan serta anak-anak dibantai. Sementara Belanda kehilangan delapan personel dan 26 lainnya luka-luka.
Sementara dalam serangan ke Kampung Tampeng pada 18 Mei 1904 mengakibatkan 125 orang pria bersama 51 orang perempuan dan anak-anak tewas. Perang di Tampeng membuat Belanda kehilangan empat prajurit dan 30 lainnya luka-luka.
Menurut HM Said, Belanda yang tidak menemukan kelompok pejuang Aceh di Tampeng bahkan membumihanguskan perkampungan tersebut.
Aksi genosida juga dilakukan Belanda di Kuta Reh pada 14 Juni 1904. Dalam aksi pembantaian itu, sebanyak 313 orang pria bersama 248 wanita dan anak-anak dibunuh secara sadis. Selain itu, sebanyak 20 orang perempuan bersama 61 anak-anak ditangkap. Tidak ada pria dewasa yang selamat dalam serbuan Belanda di Kuta Reh.
Sementara di sisi Belanda, penyerbuan Kuta Reh telah membuat mereka kehilangan lima personil prajurit karena tewas, dan 14 korban luka-luka.
Selanjutnya giliran Likat yang menjadi sasaran Belanda pada 20 Juni 1904. Di daerah tersebut, sebanyak 220 pria bersama 124 perempuan dan 88 orang anak-anak dibunuh. Belanda juga menangkap 17 anak-anak untuk dijadikan budak.
Perang di Likat membuat Belanda kehilangan tiga serdadunya dan 16 prajurit luka-luka.
Tak sampai di situ, Belanda dalam ekspedisi "Gayo Touch" itu juga menyerang Kampung Kuta Lengah Baru pada 24 Juni 1904. Serbuan itu mengakibatkan 338 pria termasuk penghulu kampung Baten dan Uen Atan, Kejuruan Bambel dibunuh. Belanda juga membunuh 130 orang anak-anak dalam serangannya ke Kampung Kuta Lengah Baru. Selain itu, mereka juga menangkap 28 orang anak-anak untuk dijadikan budak.
Serbuan Belanda ke dataran tinggi Gayo menelan banyak nyawa penduduk setempat karena diduga tidak seimbangnya kekuatan militer kedua belah pihak. Besarnya jumlah penduduk yang tewas juga tidak sebanding dengan angka kematian prajurit Belanda selama ekspedisi itu berlangsung.
Hingga saat ini, Kerajaan Belanda sama sekali belum meminta maaf atas aksi kejam yang dilakukan van Daalen di dataran tinggi Gayo dan Tanah Alas. Pembantaian tersebut juga tidak dicatat sebagai kejahatan perang meski bukti-bukti kekejaman pasukan Marsose berupa foto pernah dimuat di surat kabar terbitan Belanda masa itu.[]
No comments:
Post a Comment