"...π©π¨π―πΌ π«ππππ π ππππππ. πΊππππππ πππππππππ πππππππππππ πππππ ππ π πππππ πͺπππ πππππ πππππππππ. π©ππππ ππππππππ ππππ πππππππ π ππ ππππππππ ππππππ. π«ππ πππππ ππππ πππππ ππππππ ππππππ πππππ π ππ ππππππ ππππππππ ππππππ ππππππ πππππππ π ππ ππππππ πππ ππππππ ππππ ππππππ. π«π ππππ ππππ πππ π³πππ π·π - π³πππ π·π πππ ππ ππππππππππ πππππππ ππππ, ππππ π πππππ ππππππ ππππππ πππ - ππππππππ ππππππππ πππππππππππ π π πππππ ππππ πππππππ πππππ."
Begitulah sepenggal kisah yang dicatat oleh Marie van Zeggelen dalam bukunya Oude Glorie. Dalam buku ini pula, Marie mencatat tentang kisah terbunuhnya Cornelis de Houtman, seorang kapten dari kapal Belanda ketika menyambangi Kesultanan Aceh Darussalam.
Marie mengisahkan peristiwa tersebut terjadi di masa Sultan Alauddin memerintah Kerajaan Aceh. Namun, dari catatan itu, Marie van Zeggelen turut menambahkan bahwa, Sultan Muhammad Syah--yang merupakan anak Sultan Alauddin--adalah penguasa sebenarnya di kerajaan tersebut.
Tak hanya itu, Marie van Zeggelen turut membubuhkan nama seorang laksamana wanita bernama Hayati. Perempuan tersebut merupakan pendukung setia Sultan Alauddin.
Marie van Zeggelen juga turut mengisahkan bahwa Hayati-lah yang langsung memimpin penyerangan terhadap kapal de Leeuwin dan menangkap kapten kapal Frederick de Houtman. Sementara kapten Cornelis de Houtman dan keluarganya tewas di kapal 'de Leeuw'.
Dalam kisah itu, Hayati bukan satu-satunya nama perempuan yang terlibat dalam pertarungan. Marie van Zeggelen turut menulis nama Cut Nyak Mirah. Selanjutnya, dalam buku itu pula, Davis dan Tomkins disebut terluka akibat serangan tersebut. Mereka dibiarkan tetap di dalam kapal de Leeuwin bersama banyak korban luka dan yang tewas. Pada sore harinya, Davis dan Tomkins berlayar meninggalkan daratan Aceh.
"π΄ππ πππππ π£ππ ππ 'πΏπππ’π€' π€ππππ πΆπππππππ π»ππ’π‘πππ ππ ππ π§πππππ ππππππππβπ‘. πΉπππππππ π»ππ’π‘πππ, ππππ π»ππππ‘π π§πππ ππ πππ ππβππππ πβππππ£ππ ππππππ£πππππ, π€πππ πππ πππ£ππππππ πππ ππππ ππππππβπ‘. π·ππ£ππ ππ πππππππ , ππππππ πππ€πππ, ππππ£ππ ππ βππ‘ ππβππ£ππππ π πβππ πππ‘ ππ π£πππ ππππππ ππ πππ€πππππ ππ πππ πππππππ βπππ‘ππ π§ππ πππ πππππ ππ π£πππππ ππ (πΆπππππππ π»ππ’π‘πππ πππ ππππ’ππππππ¦π π‘ππ€ππ ππ πππππ 'πΏπππ’π€'. πΉπππππππ π»ππ’π‘πππ, πππ πππππ πππβ π»ππ¦ππ‘π π ππππππ πππ ππ’ππ’ π‘π’πππ ππβππ ππππ¦π, πππππ€π ππ πππππ‘ π ππππππ π‘πβππππ. π·ππ£ππ πππ πππππππ , ππππ’πππ¦π π‘ππππ’ππ, π‘ππ‘ππ ππππππ ππ πππππ π¦πππ ππ’π ππ ππ‘π’ ππππ πππ ππππ¦ππ πππππ π‘ππ€ππ πππ π‘ππππ’ππ, πππ ππππ π πππ βπππ ππππππ πππππ‘πππ πππππ πππ ππππππ¦ππ ππππππ’β)," tulis Marie van Zeggelen dalam bahasa Belanda.
Kisah yang ditulis Marie van Zeggelen tersebut merupakan sebuah cerita fiksi roman Hindia Belanda, "indische roman", yang bukunya setebal 218 halaman. Penegasan tentang karya fiksi ini juga tegas ditulis oleh penerbit di sampul buku "Oude Glorie", yang cetakan ketiganya diterbitkan pada tahun 1935.
Peristiwa yang ditulis Marie van Zeggelen tersebutlah yang diduga kerap ditemui di beberapa buku sejarah ilmiah, terutama yang menceritakan tentang kepahlawanan Laksamana Malahayati--sosok yang diperdebatkan dalam beberapa hari terakhir pasca UNESCO menetapkan tanggal lahirnya pada 1 Januari 1550 Masehi.
Marie van Zeggelen atau kerap ditulis M.C. Kooij-van Zeggelen hidup dari tahun 1870-1957. Dia bukan penulis top, tetapi kerap menulis tentang beberapa cerita sastra sebelum dan sesudah Perang Dunia Pertama, khususnya era 1920-an. Karya-karyanya sering dicetak ulang, seperti halnya Oude Glorie.
Buku Oude Glorie berlatar masa puncak kejayaan Aceh Darussalam abad 17 Masehi.
Rob Nieuwenhuys dalam pengantar buku Oude Glorie Cetakan III menuliskan bahwa Marie van Zeggelen menggunakan sumber-sumber abad ketujuh belas untuk karya roman tersebut.
Dalam sebuah artikel di Nederlandsche Bibliographie, kutip Rob Nieuwenhuys, Marie van Zeggelen pernah menyebutkan sumber-sumber yang dikutip sepert jurnal perjalanan De Houtman bersaudara dan jurnal Van Neck, jurnal kapten Inggris Lancaster dan jenderal Prancis Beaulieu, yang semuanya diterbitkan sebagai publikasi "Linschoten-Vereeniging".
"πΎππ‘π π‘ππππ πππ π πππππ ππππ πππ ππ ππβπ€π πππππ π£ππ ππππππππ ππππ’πππ π‘πππ‘πππ πππ π πππππ¦πππ π πππππβ π΄ππβ π ππππππ ππππβπππππ‘ππ π¦πππ π‘ππππππππ‘ ππππππ 'ππππ¦ππ‘'. πΌπ ππππ‘πππ’ ππππππ ππππππ πππ‘πππ ππ πππ π π’πππππ¦π π‘ππππππ ππ πΎππ‘π π ππππ (πππ’ πππ‘π π΄ππβ, π πππππππ π΅ππππ π΄ππβ), ππππ π πππ‘ πππππππ’πππ πππ πβ π ππππ πππππ πππππ‘ππππ¦π. π΅ππππππππππ’π, βππ π πππππ‘π ππ‘π’ πππ π‘π π ππππππ ππππππ ππππππ¦π," tulis Rob Nieuwenhuys.
Belakangan beberapa penulis sejarah ilmiah diduga turut mengutip karya roman "Oude Glorie" milik Marie van Zeggelen untuk melengkapi kisah sosok laksamana perempuan yang konon disebut Hayati. Laporan-laporan ilmiah tersebut kemudian bermasalah karena tidak ada satupun yang dapat diverifikasi.
Hal inilah yang kemudian dipaparkan Elsa ClavΓ©, seorang Profesor Muda Studi Austronesia di UniversitΓ€t Hamburg dalam buku Silenced Fighters: An insight into Women Combatantsβ History in Aceh (17th-20th c.)
Dalam buku tersebut, Elsa ClavΓ© turut membubuhkan sub judul tentang Malahayati, yang disebut keberadaannya sangat diragukan--dan diduga merupakan konstruksi baru yang dimasukkan dalam historiografi Aceh β tetapi penting untuk mempertimbangkan sosok ini.
"π΅πππππππ π¦πππ ππππ¦ππ‘ππππ ππβπ€π ππππβππ¦ππ‘π π πππππ πππππππ πππππ’ππ’β πΆπππππππ ππ π»ππ’π‘πππ πππ πππππππππ π ππ’ππππππ¦π πΉππππππππ πππππππ’ ππππ πππ‘ππ‘ππ πππππππππ πΌππππππ π½πβπ π·ππ£ππ (1543?β1605), ππ‘ππ’ π‘ππππ ππππππππππ π π’ππππ. ππππ’π πππππ πππ‘ππ‘ππππ¦π, π·ππ£ππ π‘ππππ ππππ¦πππ’π‘πππ πππ πππππ‘ππ π πππππ‘ππ π‘πππ πππ’π‘ πππ βπππ¦π ππππππππππ ππβπ€π 'π ππππππ π€ππππ‘π πππππβ πΏπππ πππππ, ππππππ πππ [π π’ππ‘ππ] π‘ππππ ππππ πππππππππ¦ππ ππππ-ππππ'," kritik Elsa ClavΓ©.
Selain itu, kata Elsa ClavΓ©, Frederick de Houtman yang memang dipenjara di Aceh selama dua tahun, turut mengumpulkan informasi berharga tentang kesultanan, tetapi tidak menyebutkan apa pun tentang seorang laksamana perempuan yang membunuh saudaranya, menjadikannya tawanan, atau memerintah pelabuhan.
"πππππβππ, π‘ππππ πππ π ππ‘π’ ππ’π πππππππππ π΅ππππππ π¦πππ πππππ’πππ’ππ ππ π΄ππβ, ππππ π£ππ πΆππππππ, π½ππππ π£ππ π·πππ ππ‘ππ’ πΊπππππ ππ π ππ¦ πππ πΏππ’ππππ π΅πππππ, π¦πππ ππππ¦πππ’π‘ ππππ πΎππ’ππππβππ¦ππ‘π ππ‘ππ’ ππππ‘πππ’ππππππ¦π ππππππ πππ πΆππππππ," tulis Elsa ClavΓ© lagi.
Dari penelusuran Elsa ClavΓ© terhadap sumber sejarah yang menyebutkan langsung nama Laksamana Malahayati mengarahkannya pada roman fiksi "Oude Glorie (Past Glory)" karya Marie van Zeggelen. Elsa ClavΓ© juga tidak dapat menelusuri sumber mana yang menjadi dasar cerita Marie Van Zeggelen, karena penulis fiksi tersebut sama sekali tidak membubuhkan sumber dalam menulis.
"ππππ’π, π‘ππππ π‘ππππππ’ πππππβππ¦π π’ππ‘π’π ππππππ‘ππππ ππβπ€π πππππ‘π π¦πππ ππ π ππππππππ πππππ πππππ ππππ π‘πππππ π πππ ππ π΄ππβ π¦πππ ππ’πππππ ππ π‘πππ’π π πππππ π‘ππππππ ππ π΄ππβ," tulis Elsa ClavΓ© lagi.
Dia menduga nama Malahayati tersebar melalui sejarah lisan dan van Zeggelen pernah mendengar cerita tersebut. Meskipun belum ada kepastian mengenai pertanyaan ini, tulis Elsa ClavΓ©, tampak jelas bahwa para penulis dan sejarawan Indonesia telah menggunakan karya Marie van Zeggelen sebagai sumber sejarah menulis Laskamana Malahayati.
"..πππ ππ’πππππ ππππππππ ππβπ€π πππ‘ππ‘ππ π΅ππππππ βπππ¦πππβ πππ‘ππ‘ππ ππ‘πππ‘ππ πππ π ππππ’. πππβ ππππππ ππ‘π’, ππππ¦π πππππ π£ππ ππππππππ π‘πππβ ππππ’π‘ππ π πππππ ππππππππ ππππππ π ππππππ π π’ππππ ππππππππ π π’π‘πππ, ππ’πππ π ππππππ ππ’πππ’πππ ππππ π π πππππβ π¦πππ π πππππ πππππ‘ππ πππππππππ‘πππ πππππ π‘ππ€π πππ π ππππ’ πππ π‘πππππ π πππ ππ πππππ. πΎππ πππβππ π‘πππ πππ’π‘ ππππ¦ππππ ππππ π ππ‘π’ π‘πππππ‘ππ ππ π‘πππππ‘ππ ππππππ¦π," tulis Elsa ClavΓ©.
Pun demikian, Direktur Jenderal United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah menetapkan hari lahir Laksamana Malahayati pada 1 Januari 1550 Masehi. Hari kelahiran tersebut juga disebut sebagai hari perayaan internasional.
π΅π π«πππππππ, π΅π π―ππππππ
Penetapan itu belakangan sempat memunculkan tanda tanya dari beberapa peneliti sejarah di Aceh. Apalagi berbagai literatur terkait sejarah Aceh masa lalu belum ditemukan secara jelas tokoh perempuan laksamana yang disebut memimpin armada laut Sultan Alaudin Riayat Syah Al Mukammil.
Selanjutnya muncul dugaan bahwa nama rekaan Malahayati itu muncul dari kaum orientalis seperti De Graff dan Snouck Hougranje, yang kemudian menjadi bahan rujukan sejarawan masa kini dalam menulis kisah perang di masa Portugis menyambangi Nusantara.
Mantan Gubernur Aceh Prof Ali Hasjmy semasa memerintah juga mencoba melacak seorang tokoh perempuan yang kemudian disebut Malahayati. Dari hasil penelusurannya kemudian disimpulkan bahwa kompleks makam kuno yang ada di Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar merupakan pusara sang laksamana tersebut.
Dari literatur yang ditulis kalangan sejarawan masa kini, disebut bahwa Laksamana Malahayati merupakan anak Laksamana Mahmudsyah anak Laksamana Muhammad Said Syah putra Salahuddin Syah anak Sultan Ibrahim Mughayat Syah. Nasab Malahayati yang dimaksud seperti ditulis Mujibburrahman dkk dalam buku Aceh Bumi Srikandi terbitan Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2008.
Laksamana Malahayati yang dimaksud juga disebut pernah menimba ilmu militer di Baital Maqdis, memimpin pasukan Inong Balee, dan menjadi sosok perempuan yang membunuh Cornelis dan menawan Frederick de Houtman di kapal van Leeuw. Kesimpulan tersebut ditulis para sejarawan merujuk catatan John Davis, seorang berkebangsawanan Inggris yang menjadi nahkoda kapal Belanda.
Peristiwa itu dicatat terjadi pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Mukammil memerintah.
Namun, berdasarkan beberapa sumber pegiat sejarah Aceh menyebutkan, John Davis tidak menyebutkan nama Malahayati dalam catatan perjalanannya tersebut. Dia hanya menulis seorang perempuan yang membunuh salah satu pemimpin armada kongsi dagang dari Belanda, setelah menyinggung Sultan Alauddin Riayat Syah Al Mukammil. Insiden itu kemudian membuat Prince Maurits selaku pemimpin Dinasti Orange Belanda mengirim utusan dan meminta maaf kepada Sultan Aceh.
Selain itu, kompleks makam yang dipercaya dan ditetapkan sebagai pusara Laksamana Malahayati--yang ada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, juga tidak memuat epitaf. Padahal, dari penelusuran setiap nisan milik seorang bangsawan apalagi seorang pahlawan perang di Aceh kerap ditemukan memuat epitaf angka tahun, nama dan sejarah singkat pemilik makam.
Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) merupakan salah satu lembaga yang masih mempertanyakan bukti otentik sejarah Malahayati. Sebagai lembaga yang kerap berkutat dengan "batu nisan", Mapesa sama sekali tidak mendapati kalimat yang menukilkan nama Malahayati di batu nisan--yang telah ditetapkan sebagai objek cagar budaya di masa Ali Hasjmy tersebut.
"Dari bentuk nisan yang dikhayalkan sebagai makam Laksamana Keumala Hayati serta suaminya, meninggal awal abad 17 Masehi. Keduanya tanpa epitaf, hanya kalimat tauhid," tulis Mizuar menjawab pertanyaan benarkah tahun lahir Malahayati 1 Januari 1550 seperti ditetapkan UNESCO.
Jika merujuk tahun tersebut, Mizuar kemudian menyebut usia Malahayati baru sembilan tahun ketika suaminya meninggal. Dia juga mempertanyakan kapan keduanya kemudian bertemu di Ma'had Asykeri Bitai atau Baital Maqdis.
Dia menilai aneh dengan kemunculan nama Laksamana Malahayati dalam sejarah Aceh. Apalagi ada para pihak yang kemudian mengklaim sebagai keturunan Malahayati sehingga mendapat penghargaan saat Indonesia menganugerahkan gelar pahlawan pada nama tersebut.
"Hingga saat ini belum ditemukan bukti autentik tentang tokoh Laksamana Malahayati. Saat ini yang ditemukan makam seorang laksamana wanita, tapi bukan atas nama Malahayati. Model nisan penghujung abad 16 hingga awal abad 17 Masehi," ungkap Mizuar Mahdi.
Nisan yang dimaksud Mizuar tersebut ditemukan di Kompleks Makam Meurah II yang ada di Ulee Lueng, Aceh Besar. Di nisan tersebut, terdapat epitaf dalam bahasa Arab Jawi yang ditulis, "π΅πβπ€ππ πππ¦π πππππβ πππ ππ ππ’ππ’π π¦πππ ππ’πππ πππππππ πππ’ππβ (ππππβ) πππ’ππ’π‘π ππππππππ ππππππππ¦π πππππ ππππ πππππ π ππ’ππππ ππππππππ¦π-πππ¦π πππ ππβπ π πππ ππππ πππππ π ππππ."
Kubur yang ditandai dengan batu nisan--yang lazim digunakan untuk wanita--tersebut telah membuka petunjuk baru tentang catatan seorang bergelar orang kaya kapal berpangkat laksamana.
"Tidak ada tarikh wafat yang ditemukan pada kedua batu nisan kubur orangkaya kapal ini, tapi kubur-kubur di kompleks pemakaman tersebut, secara umum, bertarikh wafat antara penghujung abad ke-10 Hijriah (abad ke-16 M) dan permulaan abad ke-11 Hijriah (abad ke-17 M)," tulis peneliti sejarah Islam Asia Tenggara, Taqiyuddin Muhammad, Lc, yang disampaikan Mizuar.
Nyaris setakat dengan Mapesa, arkeolog independen Deddy "Besi" Satria. Menurut pria itu, sejarawan hanya menangkap kesan-kesan saja dari sumber yang bisa dipercaya, tetapi tidak langsung membicarakan perihal tokoh historis. Hal ini juga termasuk sejarah pertikaian Kerajaan Aceh dalam pertempuran dengan pedagang Belanda di kapal dagang yang dipersenjatai semasa Sultan Alauddin Ri'ayat Syah.
"Pelaut Belanda tahun 1599, 1600 hingga 1601 memang menyaksikan sekumpulan pengawal wanita di dalam istana - Dalam Darud Dunia- pada masa Sultan Alauddin al Mukammil memerintah 1589-1603. Ini kondisi yang sangat tidak biasa. Anthony Reid sempat mengamati ini dengan berhati-hati. Houtman bersaudara dan utusan balasan pangeran Belanda itu juga mengetahuinya. Mereka bahkan berurusan dengan wanita untuk berhadapan dengan Sultan Aceh, tetapi lagi-lagi tidak ada yang mengacu pada tokoh historis ini (Malahayati), selain kesan saja. Itu perspektif historis," ungkap Deddy Besi.
Menurutnya keadaan pembuktian dari perspektif arkeologis jauh lebih rumit. Dia lantas menyebut kawasan Lamreh, Krueng Raya, dengan jaringan sistem perbentengan Ladong-Krueng Raya seperti dikisahkan dalam Hikayat Meukuta Alam, yang kemudian dikenal Benteng Kuta Inong Balee. Selain itu, kata Deddy, ada kumpulan kubur di atas bukit di hadapan Teluk Krueng Raya sekarang.
"Kedua monumen purbakala ini dihubungkan dengan tokoh Malahayati atau Hayati. Itulah pemahaman budayawan Aceh, bukan sejarawan, periode awal. Namun, apa dasar untuk membuktikan kalau kedua monumen kuno itu memiliki hubungan dengan tokoh kita secara naratif. Tidak ada. Konteks historis sudah pasti berasal dari fase historis yang sama. Tidak ada seorang arkeolog pun yang mampu membuktikannya," tegas Deddy Besi.
"Pangeran Belanda mengirimkan utusannya, lalu dibalas dengan pengiriman utusan balasan dari Sultan Aceh," lanjut Deddy Besi.
Dia menduga lokasi peristiwa yang menewaskan Cornelis de Houtman tersebut tidak jauh dari Kuala Aceh sekarang, dan bukan di Teluk Krueng Raya. Deddy memiliki hipotesa mengapa menyebutkan seperti itu.
Menurutnya armada Belanda yang datang ke Aceh setelah meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa dan Banten, setelah diusir armada Portugis di sana. Pelayaran ke Aceh, kata dia, semestinya tidak melewati Selat Malaka karena kapal-kapal Portugis berpatroli di jalur tersebut.
"Navigator Inggris John Davis tahu situasi itu. Mereka memasuki perairan nusantara ke pulau Jawa bagian barat melewati Selat Sunda, dan dari situ pula menuju pantai Aceh. Salah satu tempat yang sangat mungkin untuk melabuhkan sauh di Teluk - Lhok Pancu. Lokasi ini juga yang paling dekat dengan Kuala Aceh. Seluruh kapal dari barat akan sampai di tempat ini. Sementara Teluk Krueng Raya dan juga Kuala Gigieng untuk pelayaran dari Selat Malaka. Jadi tokoh kita tidak akan jauh dari istana. Konon lagi perannya sangat penting dalam istana. Itu logika saya," papar Deddy Besi.
Jika merujuk sumber dari Hikayat Aceh, Kesultanan Aceh masa Alauddin Al Mukammil telah memiliki armada yang menjadi andalan bagi pertahanan negara. Hal tersebut dikisahkan ketika Sultan Alauddin Al Mukammil yang melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum pengkhianatan Haru terhadap Aceh.
Dalam ekspedisi militer tersebut, disebutkan, Sultan Aluddin turut mengirim armada utama yang diduga turut diperkuat oleh pasukan pengawal wanita.
"Laksamana gelar yang disandangnya mungkin sekali berasal dari sini. Kapal utama itu disebut dalam Hikayat Aceh. Kapal besar dengan ratusan prajurit dan banyak senjata. Namun, Hikayat Aceh tidak menyebut apapun perihal pasukan perempuan Inong Bale, konon lagi nama tokoh kita (Malahayati atau Hayati). Antara ada dan tiada, antara kepastian dan keraguan, bahkan dugaan. Seperti rumor, membangun rumor belaka di atas bayangan," ujar Deddy Besi.
Meskipun demikian, Deddy tidak langsung menyimpulkan bahwa UNESCO melakukan kebijakan yang salah dalam menetapkan tokoh perempuan berpengaruh di dunia. Sebagai salah satu lembaga PBB, Deddy menduga UNESCO telah melakukan penelitian di Aceh.
"Ketika UNESCO menetapkan menjadi tokoh perempuan berpengaruh di dunia bukan guyonan, mereka serius. Mestinya mereka punya bukti yang lebih akurat. Belanda dan Portugis, mungkin juga Inggris, punya dokumen yang aktual dan faktual," kata anggota Perkumpulan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisi Daerah Aceh-Sumatera Utara tersebut.
Peneliti Center for Information of Sumatra-Pasai Heritage (CISAH) turut mendukung pernyataan Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, terkait sejarah Malahayati. Elemen sipil yang berkutat di bidang sejarah Aceh tersebut juga berharap para pihak untuk dapat memaparkan bukti jika memang berpendapat bahwa sosok Malahayati ada dan seperti yang dikisahkan selama ini.
Dia mengatakan generasi saat ini kian berkembang dan kritis dalam menyikapi informasi tertentu. Apalagi jika mengenai ilmu pengetahuan yang menurutnya tidak boleh hanya bersandar kepada imajinasi belaka.
"Literasi berdasarkan imajinasi akan sulit menyusup ke ranah pendidikan sejarah," tegas pria yang akrab disapa Abel Pasai tersebut.
Dia mengatakan seharusnya masyarakat Aceh berbangga dengan kehadiran generasi dan lembaga-lembaga yang selama ini konsentrasi secara swadaya untuk melakukan kajian sejarah Aceh. Dia mencontohkan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), yang telah menemukan puluhan nama Sultan Aceh, panglima perang, menteri dan tokoh penting lainnya melalui berbagai penelitian, baik kajian kepustakaan maupun penelitian di lapangan.
"Jika ada yang keberatan dengan keterangan Mapesa terkait Malahayati, lebih baik dibuktikan keakuratan data sejarah itu sendiri agar tidak ada lagi pembodohan terhadap generasi mendatang. Sajian data primer sejarah Aceh lebih luas dari cerita bual yang berkembang seabad ini," ujar Abel Pasai.
ππ¦πππ¬ π π’π₯π¦
Pendapat berbeda tentang sosok Laksamana Malahayati justru dipaparkan oleh arkeolog Universitas Syiah Kuala (USK), Husaini Ibrahim. Dia menduga keraguan tentang sosok Laksamana Malahayati justru muncul setelah adanya wacana pembuatan film kolosal terkait tokoh perempuan itu.
Prof Husaini bahkan berpendapat rekam jejak perjalanan hidup panjang hingga kematian Laksamana Malahayati jelas tertulis di beberapa literatur.
βAsumsi ini lahir setalah Laksamana Malahayati sudah banyak difilmkan. Orang berasumsi film ini fiksi, jadi menyakitkan dengan sosok tersebut, padahal film itu diilhami dari cerita nyata,β ujar Husaini Ibrahim.
Kemudian terkait makam Laksamana Malahayati yang diragukan beberapa peneliti lantaran tak memiliki epitaf, Husaini menjelaskan jika kondisi makam lama seringkali sudah haus, ukiran nama dan waktu wafatnya sudah memudar dimakan waktu. Selain itu, Husaini juga menjelaskan jika epitaf makam tidak hanya terletak di luar, tetapi bisa jadi berada di dalam.
βIni juga menjadi perhatian bagi kita. Yang penting Keumalahayati sudah diakui sebagai pahlawan nasional, kita harus bersyukur karena bisa dibuktikan dengan bukti-bukti yang ada,β katanya.
Jejak Keumalahayati bukanlah tanpa bukti, Husaini mempertanyakan jika sosok tersebut memang diragukan, maka banyak seminar yang telah dilaksanakan terkait penetapan Laksamana Malahayati sebagai tokoh pahlawan perempuan dari "Tanah Rencong" sudah muncul sejak saat itu.
βKebesaran Malahayati ini sudah lama diakui, ada banyak pengakuan tentang sosok Keumalahayati. Dibuktikan dengan penamaan jalan, rumah sakit dan sebagainya,β ujarnya seperti dilansir HabaAceh.id.
Pengakuan tersebut, jelas Husaini dibuktikan dengan perjuangan, pengalaman dan dari buku-buku yang dirujuk, bukan hanya di nasional bahkan internasional telah mengakuinya.
Beberapa bukti yang telah diceritakan dalam banyak literatur, kata Husaini bahwasanya jejak Keumalahayati sudah dimulai sejak sosok tersebut menjadi protokoler kerajaan dimasa Sultan Alaudin Riayat Syah Al Mukammil. Keahliannya tidak hanya dalam berbahasa, tetapi juga berperang.
Husaini mengatakan sejak suaminya Laksamana Tuanku Mahmuddin bin Said Al Latief syahid dalam perang melawan Portugis di Teluk Haru, Keumalahayati kemudian melanjutkan perjuangan dengan membentuk pasukan Inong Balee. Orang-orang balee yang jumlahnya ribuan terus melawan bangsa Portugis dan kemudian setelahnya berjuang kembali melawan bangsa Belanda.
βSampai akhirnya Keumalahayati berhasil menaklukkan Cornelis De Houtman. Saya pikir itu tidak perlu diragukan lagi. Karena pengakuan ini tidak hanya dari kita, tetapi juga diakui oleh Belanda dan bahkan Inggris pun mengakui. Terlebih di masa itu tidak ada kapal-kapal besar yang dipimpin oleh seorang wanita,β tuturnya, tetapi tanpa menyebut literatur asing yang dimaksud.
Tentang sosok Malahayati ini juga diperkuat oleh Nab Bahany AS. Sebagai penulis buku βLaksamana Keumalahayati Singa Betina Selat Malakaβ, dia memiliki argumen sendiri tentang sosok pahlawan perempuan asal Aceh tersebut.
Dia merujuk kepada peristiwa tewasnya Cornelis de Houtman dan pengiriman delegasi oleh Prince Maurits kepada Sultan Aceh. Nab Bahany menyebutkan, saat itu Prince Maurits selaku penguasa Dinasti Orange turut mengirimkan sepucuk surat yang berisi permohonan maaf kepada Sultan Aceh Saiddil Al Mukammil.
Nab Bahany membenarkan bahwa Jhon Davis dalam catatanya tidak menyebut nama Laksamana Keumalahayati. Davis, menurut Nab Bahany, hanya mengakui dirinya diterima oleh dua orang kepercayaan sultan di istana kerajaan Aceh.
"Dua petinggi istana yang menerimanya, yang satu perempuan kepercayaan Sultan, yang satu lagi seorang laki-laki yang menjabat sebagai Qadhi Malikul Adil (Mufti Kerajaan Aceh). Jhon Davis menyebut untuk Qadhi Malikul Adil itu Uskup Yang Agung, karena Davis tidak tahu kalau yang menerimanya seorang ulama besar kerajaan, yaitu Syekh Hamzah Fansuri," kata Nab Bahany.
Menurut Nab Bahany, penulis Belanda termasuk Frederick de Houtman sengaja menyembunyikan sejarah Laksamana Malahayati.
"Mereka tidak akan membuka aib bangsanya di tangan seorang perempuan Aceh," kata Nab Bahany.
Namun, menurut Nab Bahany, dalam kajian sejarah kemudian diketahui perempuan yang menerima Davis di Istana Kerajaan Aceh adalah Laksamana Keumalahayati. Sementara uskup agung yang dimaksud Davis adalah Syekh Hamzah Fansuri.
"Oleh karena itu, Hamzah Fansuri jangan hanya dilihat sebagai seorang ulama sufi, beliau juga seorang negarawan kepercayaan Sultan Saidil Al Mukammil di Kerajaan Aceh kala itu," tandas Nab Bahany.[]
π΅πππ: π»ππππππ πππ πππππ πππππππππ πππππππ ππππ ππππππ π ππππππ πππππππ π ππ π πππππ π π π―ππππ¨πππ.ππ .
#SejarahAceh #sejarahaceh
No comments:
Post a Comment