TEUKU Raja Sabi alias Putra Rajawali, yang merupakan anak dari Cut Meutia, sempat berkelana usai ibunya syahid dalam peperangan melawan Belanda. Dalam pelariannya dari kejaran Belanda, seperti dicatat H. M Said dalam buku Aceh Sepanjang Abad Jilid II, Teuku Raja Sabi pernah menyambangi Panton Labu dan Simpang Ulim, serta beberapa daerah lain yang ada di Aceh.
Belanda memiliki kepentingan besar terhadap Teuku Raja Sabi untuk meredam perjuangan rakyat di wilayah Keureuto. Wilayah ini merupakan bekas daerah kekuasaan keluarga Teuku Raja Sabi yang pernah dipimpin oleh sang ayah, Teuku Chik Tunong dan Cut Meutia. Pada awalnya, Teuku Raja Sabi yang ikut bergerilya bersama Cut Meutia, menghilang setelah ibunya tersebut syahid di Pucok (hulu) Krueng Peuteo bersama Teungku Paya Bakong atau populer dikenal Teungku Mata Ie, Teungku Mat Saleh dan lima pengawalnya. Menurut Zakaria Ahmad dkk dalam buku "Cut Nyak Meutia", ketika pasukan Mosselman mengepung lokasi persembunyian para pejuang Aceh tersebut, Teuku Raja Sabi sedang memancing di sungai. Setelah kehilangan Cut Meutia, Teuku Raja Sabi yang masih belia terus bergerilya bersama sisa pasukan setianya seperti Pang Badon dan Pang Lotan. Hingga akhirnya, pasukan yang mengikuti Teuku Raja Sabi satu per satu gugur karena sergapan Belanda. Dia akhirnya tinggal seorang diri dan tetap memilih bergerilya di belantara Aceh.